Skip Over Navigation Links

Latar Belakang Pendirian Yayasan

There is no success without its challenges. Begitulah kata orang yang telah mencapai kesuksesannya. Namun, kata tersebut belum bisa diucapkan oleh Pemerintah Kabupaten Belitung Timur, dikarenakan masih banyaknya tantangan tantangan yang masih dihadapi untuk menggapai kesuksesan tersebut. Belitung Timur adalah kabupaten yang memiliki luas wilayah 17.967,94 kmē yang terdiri dari luas daratan 2.506,90 km2 dan luas wilayah laut 15.461,03 km2. Jumlah penduduk Kabupaten Belitung Timur adalah 106.432 jiwa, terdiri dari 55.361 laki dan 51.071 perempuan, komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin adalah 52% laki dan 48 % perempuan. Secara keseluruhan, jumlah penduduk laki laki lebih banyak dibanding jumlah perempuan. Untuk sex rasio penduduk Kabupaten Belitung Timur adalah sebesar 1:1 yang artinya jumlah penduduk laki seimbang dengan jumlah penduduk perempuan. Saat ini Belitung Timur sedang menghadapi berbagai macam tantangan seperti:
a. Meningkatnya angka pengangguran
Meningkatnya angka pengangguran bukan hanya dirasakan oleh kabupaten Belitung Timur saja, tapi dihadapi oleh Pemerintahan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hal ini disebabkan lemahnya kondisi pertimahan Bangka Belitung (Babel), sebagaimana diketahui mayoritas pekerja disektor tambang adalah warga pendatang dari luar Babel, sehingga membuat melemahnya daya beli masyarakat sebagai dampak terpuruknya perekonomian Babel. Dengan melemahnya sektor sudah dapat dipastikan angka pengangguran semakin meningkat. Disisi lain, pengangguran di Kabupaten Belitung Timur disebabkan oleh kurangnya jumlah lapangan kerja yang tersedia dibandingkan dengan jumlah pencari kerja. Jumlah angkatan kerja di Kabupaten Belitung Timur sampai dengan Juli 2010 berjumlah 38.192 orang, sedangkan jumlah penduduk yang bekerja 35.997 orang, sehingga terdapat pengangguran sebanyak 2.195 orang. Fenomena pengangguran ini juga berkaitan erat dengan terjadinya pemutusan hubungan kerja, yang disebabkan adanya perusahaan yang menutup atau mengurangi bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau kondisi ekonomi makro baik secara nasional maupun global. Sehingga dalam hal ini diperlukannya upaya-upaya untuk membuka lapangan kerja baru dan merubah mindset masyarakat untuk tidak bergantung pada sektor tambang semata.
b. Rendahnya Status Kesehatan Masyarakat Belitung Timur
Rendahnya status kesehatan di Belitung Timur ditandai dengan adanya isu-isu kesehatan seperti:

  • Masih adanya kematian Ibu dan Bayi dalam proses kehamilan, persalinan dan nifas di wilayah Kabupaten Belitung Timur; jumlah kematian ibu dalam tiga tahun terakhir yaitu 2007, 2008 dan tahun 2009 sebanyak 4 orang. Selain itu prevalensi stroke juga tinggi, sama dengan angka stroke di Jakarta sebanyak 9,7%. Angka ini menunjukkan lemahnya system pelayanan kesehatan di Belitung Timur, sehingga perlunya optimalisasi peran tenaga kesehatan bidan, perawat, dan dokter serta meningkatkan fasilitasi di rumah sakit dan puskesmas.
  • Masih rendahnya status gizi di masyarakat terutama pada bayi, balita dan ibu hamil di wilayah Kabupaten Belitung Timur; dan masih adanya penyakit menular endemic local dan meningkatnya penyakit tidak menular di Kabupaten Belitung Timur. Penyakit terbanyak di Kabupaten Belitung Timur selama kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir adalah ISPA yaitu sekitar 24.899 kasus, Hipertensi 12.541 kasus, Gejala dan tanda penyakit lainnya 11.487 kasus, Tukak lambung sebanyak 7.102 kasus, penyakit lain yaitu 5.684 kasus, penyakit gigi dan mulut sebanyak 4.322 kasus, penyakit rematik sebanyak 3.752 kasus, penyakit Asma sebanyak 3.019 kasus dan penyakit Diare 2.319 kasus, serta malaria 728 kasus. Penanganan tingginya angka penyakit-penyakit tersebut adalah pentingnya melakukan kegiatan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. Tingginya angka hipertensi dan tukak lambung mungkin disebabkan banyaknya masyarakat yang terbiasa minum kopi setiap malamnya, yang tentunya berkaitan dengan jargon kota manggar sebagai kota seribu satu kedai kopi.
  • Masih banyaknya rumah tidak sehat, sanitasi dan sarana air bersih serta kurangnya kesadaran ber PHBS dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini perlunya sentuhan peran tenaga kesehatan masyarakat atau perawat komunitas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan upaya meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya PHBS.
  • Masih lemahnya pengawasan obat dan makanan di Kabupaten Belitung Timur. Ini tentunya peran pemerintah dalam hal pengawasan obat dan makanan. Peran yayasan ini adalah mempromosikan bagaimana cara mengecek obat yang kedaluwarsa, dan makanan yang sehat. Hal ini terkait karena banyaknya sekarang makanan yang bercampur dengan bahan plastik.
    c. Masih tingginya angka kemiskinan di Belitung Timur
    Kemiskinan adalah kondisi di mana hak-hak dasar masyarakat tidak terpenuhi untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Kabupaten Belitung Timur sampai saat ini masih menghadapi masalah kemiskinan yang antara lain ditandai oleh jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Pada tahun 2010 jumlah keluarga miskin di Kabupaten Belitung Timur mencapai 2.010 kepala keluarga.2 Masalah kemiskinan di Kabupaten Belitung Timur juga ditandai oleh rendahnya mutu kehidupan masyarakat. Berbagai indikator pembangunan manusia, dan indicator kemiskinan manusia menunjukkan ketertinggalan Kabupaten Belitung Timur dengan beberapa daerah lain. Kondisi ini tentunya berkaitan dengan angka pengangguran di Belitung Timur. Sehingga diperlukan upaya-upaya untuk membuka lapangan kerja baru atau membudayakan masyarakat Belitung Timur.
    d. Meningkatnya Jumlah Lansia
    Jumlah Lansia di Kabupaten Belitung Timur mengalami peningkatan dari 5.059 jiwa pada tahun 2009 dan pada tahun 2010 sebanyak 6.600 jiwa. Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya-upaya tenaga kesehatan dan kader-kader masyarakat dalam perawatan dan meningkatkan kualitas hidup lansia.
    e. Kurangnya perguruan tinggi berbasis sarjana
    Kurangnya perguruan tinggi berbasis sarjana di Belitung Timur membuat putra dan putri daerah melanjutkan studinya di luar kota. Hal ini menunjukkan ketertinggalan Kabupaten Belitung Timur dalam hal pendidikan, termasuk pendidikan kesehatan. Sebagai contoh, saat ini hanya ada satu sekolah keperawatan (Akademi Keperawatan) di Kabupaten Belitung yang basisnya adalah D3 keperawatan. Sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan jenjang pendidikan ke tingkat sarjana. Karena menurut Undang-Undang Keperawatan bahwa perawat yang basicnya D3 adalah perawat vokasional, dan perawat yang basicnya S1 adalah perawat professional. Hal ini tentunya mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan, terutama pelayanan keperawatan yang diberikan.
    f. Kurangnya penelitian atau publikasi
    Dalam pendidikan Diploma, mata pelajaran tentang penelitian tidak diajarkan. Sehingga tidak adanya publikasi atau hasil-hasil penelitian yang bisa dimanfaatkan di pendidikan. Saat ini, hasil penelitian yang bisa dimanfaatkan adalah hasil survey dari instansi-instansi terkait, seperti misalnya dinas kesehatan. Hal ini tentunya berkaitan dengan kurangnya pendidikan berbasis S1, karena pada dasarnya basic mata kuliah tentang penelitian ada di S1.
    g. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk berolahraga
    Sumber penyakit berasal dari pola hidup kita sendiri, baik dari pola makan, pola tidur, dan pola berolahraga. Tidak bisa dipungkiri bahwa untuk menggerakkan tubuh itu sulit, sehingga perlu adanya motivasi dan masukan-masukan tentang pentingnya berolahraga dan kegiatan-kegiatan terkait, misalnya jalan sehat, lomba senam di masing-masing daerah, atau membuka wadah untuk berolahraga. h. Rendahnya peran remaja di masyarakat
    Meningkatnya dunia teknologi, terutama Internet membuat remaja-remaja Belitung Timur jarang bersosialisasi. Meningkatnya dunia teknologi adalah bukan masalah buat remaja kita sebetulnya. Namun pembagian waktunya yang perlu diperbaiki. Masyakatat Belitung Timur adalah masyarakat yang mayoritasnya muslim, dan tidak jarang para remaja sering ke masjid untuk beribadah, sehingga peluang inilah yang bisa manfaatkan, yaitu misalnya memanfaatkan masjid sebagai wadah untuk bersosialisasi, misalkan melatih public speaking atau mengajak para remaja dalam kegiatan masjid untuk membantu lingkungan sekitar dalam hal kesehatan.
    i. Kurangnya minat para pelajar atau masyarakat untuk berbahasa Inggris
    Pariwisata merupakan salah satu sektor andalan di Kabupaten Belitung Timur dengan melihat potensi yang ada seperti hamparan pasir putih, bebatuan granit dengan mozaik nan indah dan deburan air laut jernih dan terumbu karang merupakan daya tarik bagi wisatawan. Potensi lain juga datang dari objek wisata pantai antara lain Pantai Nyiur Melambai, Pantai Punai, Pantai Tanjung Kelumpang, Pantai Burung Mandi dan lainya. Jumlah wisatawan domestik pada tahun 2009 sekitar 2.865 orang, meningkat sebesar 3,02% jika dibandingkan dengan tahun 2008 yang sebesar 2.781 orang. Sedangkan jumlah wisatawan asing yang berkunjung di Kabupaten Belitung Timur tahun 2009 berjumlah 16 orang yaitu menunjukkan peningkatan signifikan di tahun 2010 sebesar 41 orang. Jumlah wisatawan asing ini akan meningkat setiap tahunnya. Peluang ini sebetulnya bisa dimanfaatkan oleh pelajar atau masyarakat sekitar untuk membuka peluang usaha, seperti di Bali yang mana kebanyakan masyarakat dan pelajar bisa berbahasa inggris. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan minat untuk belajar bahasa Inggris pada masyarakat dan pelajar di Belitung Timur.
    j. Banyaknya bekas-bekas penambangan
    Sebagai daerah kepulauan, Belitung Timur memiliki potensi kelautan yang sangat potensial untuk di kembangkan dan di daratannya banyak terdapat bekas bekas penambangan yang belum teroptimalkan pengelolaannya. Hal ini sebetulnya bisa dimanfaatkan sebagai program budidaya perikanan dan kelautan.

    References:
    Pemerintah Daerah Kabupaten Belitung Timur. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). 2011-2015

  • Tantangan yang dihadapi dari latar belakang ini:

    • Meningkatnya angka pengangguran
    • Rendahnya Status Kesehatan Masyarakat Belitung Timur
    • Masih tingginya angka kemiskinan di Belitung Timur
    • Meningkatnya Jumlah Lansia
    • Kurangnya penelitian atau publikasi
    • Kurangnya kesadaran masyarakat untuk berolahraga
    • Rendahnya peran remaja di masyarakat
    • Kurangnya minat para pelajar atau masyarakat untuk berbahasa Inggris
    • Banyaknya bekas-bekas penambangan
    Halaman ini terkahir direview tanggal 17 Juni, 2015

    Social Media Links